
BANDUNG- Pendapat pakar dari Universitas Monash Australia tentang akan adanya letusan gunung api dahsyat di Danau Toba, Sumut, mendapat tanggapan. Kemarin, Direktorat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) Bandung mengirim surat ke Pemda setempat dan Menteri ESDM. Intinya, meminta warga tidak termakan kabar tersebut dan tetap tenang.
Kasubdit Mitigasi Bencana Geologi DVMBG Dr Surono menyatakan pendapat itu membutuhkan klarifikasi lebih jauh mengingat ada banyak parameter yang harus menyertainya. ''Dia tampaknya menggunakan data statistik yang hanya menuntut ke tingkat kerawanan tapi tidak ke tingkat peramalan,'' katanya, kemarin, di Bandung.
Pendapat itu akan makin bergaung apabila disertai dengan penelitian mendalam dan terus-menerus seperti pengujian atas usia batuan atau deformasi (pergerakan permukaan) serta sejumlah parameter lainnya atas fenomena aktivitas vulkanik di danau terkenal itu. Bila perkiraan letusan mahadahsyat itu berasal dari pengaruh sejumlah gempa besar di Kawasan Sumatera, Surono berpendapat, efeknya akan terdeteksi lebih dulu dari aktivitas gunung api di Sumatera sebagai bagian dari ring of fire seperti Gunung Piet Sagu, Burni Telong (NAD), Merapi (Sumbar) atau Kerinci (Jambi).
Surono mengakui, terjadinya Danau Toba memang berasal dari letusan gunung api pada jutaan tahun yang lalu. Namun sejauh ini di wilayah tersebut, aktivitasnya tidak menunjukkan keaktifan.
Dia tidak mau membantah tapi hanya menyayangkan pendapat yang kesannya dikeluarkan secara terburu-buru, sehingga tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
''Yang rugi masyarakat, mereka akan tambah panik kendati untuk menjaga kewaspadaan tidak masalah,'' katanya.
Surono menilai, pendapat pakar tersebut, jika tidak disikapi secara matang, akan menjadi teror bagi masyarakat. ''Pendapat dari luar kan biasanya dituruti,'' katanya.
Sebagaimana diberitakan, Prof Ray Cas menyatakan letusan super volcano akan terjadi dan tersembur dari Danau Toba akibat pengaruh gempa-gempa dahsyat di Sumatera. Skala bencana ledakan super volcano itu diperkirakan jauh lebih besar daripada tsunami 26 Desember dan gempa 28 Maret lalu. Profesor Ray Cas dari Fakultas Ilmu Bumi Monash University mengatakan, letusan gunung berapi paling dahsyat itu bakal terjadi di Danau Toba. (dwi-83t)
Pakar Peringatkan Letusan Gunung Api di Danau Toba
SYDNEY - Ketika Indonesia sedang berjuang keras mengevakuasi para korban
gempa di Pulau Nias, seorang pakar Australia memperingatkan bahwa
wilayah Sumatera bakal diguncang letusan gunung berapi sangat dahsyat.
Skala bencana ledakan ''super volcano'' itu diperkirakan jauh lebih
besar daripada tsunami 26 Desember dan gempa 28 Maret lalu.
Profesor Ray Cas dari Fakultas Ilmu Bumi Monash University mengatakan,
letusan gunung berapi paling dahsyat itu bakal terjadi di Danau Toba,
Sumatera Utara.
Dia mengatakan kemarin, Danau Toba terletak di jalur patahan di bagian
tengah Pulau Sumatera. Sejumlah ahli seismologi juga mengatakan, gempa
besar ketiga mungkin akan mengguncang wilayah tersebut, menyusul gempa
9,0 skala Richter pada 26 Desember dan 8,7 skala Richter pada 28 Maret
lalu.
Letusan-letusan vulkano besar yang berpotensi menewaskan jutaan orang
dan menimbulkan kerusakan hebat akan terjadi setelah satu ledakan
pertama.
Menurut Cas, super volcano itu hanya menunggu waktu. Dia menambahkan
ledakan tersebut merupakan ancaman terbesar bagi planet ini. Sebab,
letusan hebat itu bisa menyebabkan bencana terbesar dalam sejarah
modern.
''Super volcano pasti meledak,'' kata Cas. ''Ledakan itu terjadi setiap
50 atau 1.000 tahun. Cepat atau lambat, salah satu letusan dahsyat itu
akan mengguncang planet ini.''
Menurutnya, ledakan-ledakan hebat gunung berapi pernah terjadi di
Italia, Selandia Baru, Amerika Selatan, AS, dan Indonesia.
Dalam Waktu Dekat
Ledakan terbesar berlangsung di Danau Toba, yang telah menciptakan kawah
berdiameter 90 kilometer. Menurut Prof Cas, siklus ledakan hebat 2.000
tahunan telah tiba waktunya. Para pakar vulkanologi di seluruh dunia
sedang mengamati dan menunggu terjadinya bencana besar dalam waktu
dekat.
Menurut Cas, ledakan besar terakhir yang secara ilmiah disebut caldera
terjadi 2.000 tahun lalu di Selandia Baru.
Dia mengatakan, ledakan-ledakan itu begitu kuat sehingga sejumlah besar
bebatuan dan debu terlontar ke atmosfer. Ada risiko ledakan itu
menimbulkan tsunami karena guncangan vulkanik melanda lautan.
''Kemungkinan korban tewas bisa mencapai ratusan ribu sampai jutaan. Ada
implikasi serius terhadap iklim, cuaca, dan keberlangsungan produksi
pangan,'' kata dia.
Dia menambahkan, meski ada ancaman dalam waktu dekat, negara-negara
sekitar tampaknya belum siap.
''Masalah terbesar adalah, banyak gunung berapi yang berpotensi meletus
itu mungkin tidak dipantau dengan semestinya. Tentu saja, kita harus
belajar dari bencana tsunami Desember lalu,'' kata dia.
Gempa-gempa di lepas pantai Aceh barat dan Pulau Nias terjadi di
sepanjang jalur patahan lepas pantai barat Sumatera. Gempa-gempa itu
menciptakan tekanan seismologis yang dapat mempercepat letusan gunung
berapi.
Cas mengatakan, letusan vulkano hebat terjadi di Danau Toba sekitar
73.000 tahun lalu. Skala ledakannya begitu besar sehingga mengubah iklim
dunia. ''Ledakan tersebut mengakibatkan tersemburnya 1.000 kilometer
kubik debu dan bebatuan ke atmosfer. Sebagian besar debu itu menghalangi
sinar matahari. Akibatnya, dunia memasuki zaman es,'' kata dia.
Ilmuwan itu mengatakan super volcano mencerminkan potensi bahaya
terbesar dari Bumi. ''Ancaman dahsyat lainnya berasal dari angkasa luar,
yakni jatuhnya asteroid besar,'' tambahnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar